Selamat hari gini lagi kawan, bahan omongan kali ini adalah tentang fenomena yang menurut gue ini mengerikan sekali. sebagai pendahuluan, buat mahasiswa yang pada ngekos, pasti sering deh dalem hati kepikiran suka kangen masakan rumah, ya ga? karena emang masakan rumah itu adalah makanan paling enak di dunia, karena dimasak penuh cinta oleh mamah. Hampir semua mamah di dunia bisa masak, karena itu emang sebuah kewajiban bagi seorang istri untuk mengurus anak dan suami nya. Tapi sekarang kebalikannya men, coba liat generasi kita, ada berapa banyak cewe-cewe para calon mamah yang bisa masak? palingan juga masih bisa diitung pake jari! cewe-cewe jaman sekarang cuman bisa jalan ke mall, ngerumpi, dandan, megang bb, dan bermalas-malasan. Coba disuruh masak, pasti kaga bisa! payah! girls, pada mikirin nasib anak sama suami lo entar ga sih? ya kali entar dikasih makan Mie Remezz mulu! wong nyalain kompor aja kaga bisa. Dan lo tau ga men alesan mereka apa? "ini tuh belom saatnya kita belajar masak, entar juga kalo udah nikah kita belajar masak kok" beuh! gue paling ga suka coy cewe macem gitu, yakali entar kita dijadiin bahan percobaan buat mereka yang baru pada belajar masak, kagak mau lah gue, trus trus anak lu juga lu jadiin bahan percobaan memasak lu? ckckck tega bet emang, jangankan kami para lelaki ya, anak kecil aja tuh pengennya pulang sekolah udah disuguhin makan siang spesial sama mamahnya, nah masa ini mau lu kasih makan siang hasil percobaan belajar masak mamahnya? mending kalo langsung enak, nah kalo kagak?! udahlah girls, mumpung belom terlambat, belajar masak lah kalian, dari mulai bantu bantu mamah masak aja, bantu motong motong apa kek, seenggaknya kalian udah biasa di dapur laaah, jadi ngerti masak itu begimana begimananya. Pokoknya jangan sampe anak anak kita jadi ga kangen masakan rumah atau dia malah kangen masakan pembantu, jangan sampe image mamah dan nenek yang jago masak itu hilang di generasi kita! dan jangan sampe ga ada lagi yang bisa masak masakan indonesia yang beragam ini. wassalam.
Saturday, September 22, 2012
Takkan Ada Lagi "kangen masakan rumah"
Tuesday, September 18, 2012
Hari Pertama Kuliah Semester 3
1. Matakuliah Pertama
Letak Duduk : Paling Depan
Tingkat kengantukan : 20%
Fokus : 89%
#1
Dosen: Batas toleransi kehadiran telat adalah 15 menit, lewat dari itu tetep boleh masuk tapi masuknya gaboleh lewat pintu, karena akan menggangu saya mengajar, silahkan cari jalan lain selain pintu.
Gue: *langsung celingak-celinguk nyari jalan masuk selain pintu untuk persiapan telat*
#2
Dosen: Kehadiran minimal di kuliah saya adalah 90%, yaa tapi kalo emang kalian ada sesuatu yang membuat tidak dapat hadir, silahkan kabarin dan sms saya aja, maka akan saya anggap hadir.
Gue: *reflek* Minta nomer hp paaaaak! (persiapan bolos)
#3
Dosen: Coba ada yang tau sebetulnya lulusan Sistem Komputer itu nantinya jadi apa? karena sebenernya kita itu kalah sama Informatika, mereka lebih bisa semua, lebih menguasai IT, bikin software bisa, networking bisa, lalu lulusan SK itu jadi apa nantinya?
Gue: Jadi dosen SK bisa pak, pasti kalah deh tuh anak Informatika.
2. Mata Kuliah Kedua
Letak Duduk : Paling Depan
Tingkat kengantukan : 25%
Fokus : 80%
#1
Dosen : *ceramah*
#2
Dosen : *masih ceramah*
#3
Dosen : *masih tetep ceramah*
#4
Dosen : *masih tetep terus ceramah dan mulutnya mulai berbusa penuh air liur*
#5
Dosen : *masih tetep terus terusan ceramah dan mulai memberikan hujan lokal bagi warga penghuni bangku depan*
#6
Dosen : *lanjut ceramah dan sesekali gue kebagian hujan lokal*
#7
Dosen : *ceramah terus*
Gue : *mulai kesel dan ngantuk*
#8
Dosen : *ga berenti berenti ceramah*
Gue : *bete, nunduk biar muka ga basah, trus malah ngantuk, dan kapok duduk didepan*
#9
Tiba tiba terdengar suara alarm hp
Dosen : Wah, udah bunyi berarti waktu kita telah habis, ya sekian kuliah kali ini, wassalamualaikum *matiin alarm*
Gue : *keinget sama Mr Bean yang bawa alarm pas ujian*
#10
Dosen : *Keluar kelas*
Gue : *Elap elap muka yang basah kena hujan lokal trus merasa menyesal karena duduk didepan dan kapok gamau lagi duduk didepan padahal di awal masuk tekad sudah bulat untuk kuliah yang bener dan duduk didepan terus biar bisa ngerti dan ga tidur dibelakang lagi tapi dosen tadi merusak semangat gue*
Result : Kuliah hari pertama di semester 3 berjalan kurang sempurna dan membuat semangat gue yang menggebu gebu ini hilang begitu saja. terima kasih.
Saturday, September 15, 2012
Duta Jomblo 2012
Friday, January 20, 2012
Ibu Yang Bekerja (Part 1: Tugas Pokok Wanita Menurut Islam)
Sepertinya wanita jaman sekarang banyak yang berkeinginan untuk bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya, memang tidak ada salahnya di jaman emansipasi ini wanita juga ikut bekerja mencari rezeki, namun bukan berarti kegiatan tersebut tidak memiliki dampak-dampak tertentu, tentu saja banyak dampak yang akan muncul, sebelum kita membahas lebih lanjut tentang dampak-dampak tersebut, sebagai seorang muslim ada baiknya kita tinjau dulu apa yang menjadi tugas pokok seorang ibu menurut islam. Tapi karena saya bukan seorang muslim yang berpengetahuan luas tentang ini, maka saya hanya akan mengutip sebuah artikel saja dari Bapak Adnan Syafi'i, BKLDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis di dakwahkampus.com.
"...banyak muslimah yang terjebak pada pandangan yang mengecilkan peran wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Padahal dalam Islam, justru peran itulah yang dianggap utama bagi wanita. Atau dalam kata lain, peran ibu dan pengatur rumah tangga merupakan tugas pokok bagi wanita menurut Islam.Alasan utama yang menjadi landasan untuk menyimpulkan bahwa tugas pokok wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga adalah adanya hukum-hukum mengenai wanita yang semuanya memberikan petunjuk ke arah pemahaman tersebut. Seperti hukum dalam masalah kehamilan, kelahiran, persusuan, pengasuhan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah ‘iddah.Oleh karena itu, apapun lapangan pekerjaan wanita dan apapun beban yang dipikulnya, maka seorang wanita harus tetap mempertahankan fungsinya yang paling mendasar, yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, termasuk sebagai pendidik bagi anak-anaknya.Meski begitu, tidak berarti bahwa aktivitas wanita hanya dibatasi pada perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga saja dan ia dilarang dari melakukan aktivitas-aktivitas yang lain. Sebaliknya, Islam telah menetapkan kebolehan wanita untuk menekuni aktivitas pertanian, industri, perdagangan dan bahkan mewajibkan aktivitas-aktivitas lain di luar peran ibu dan pengatur rumah tangga seperti mengemban dakwah dan menuntut ilmu.Dengan demikian, anggapan bahwa Islam mengekang dan melakukan diskriminasi terhadap wanita adalah anggapan keliru bahkan ngawur karena tidak memiliki landasan sama sekali. Justru, yang diperbuat Islam itulah yang disukai oleh para wanita, termasuk wanita dari kalangan Barat
Media Harian Seputar Indonesia menulis, “Saat ini kecenderungan wanita di dunia dalam beragam tingkat ekonomi, lebih memilih mengasuh anak dibandingkan mencari rezeki di luar.” Kesimpulan tersebut tercermin dari survei terbaru di Amerika Serikat yang menunjukkan turunnya angka wanita pekerja dalam beberapa dekade terakhir. “Penurunan pekerja wanita ternyata terlihat nyata di antara semua kelompok ekonomi masayarakat, totalnya kira-kira sama,” kata Philip Cohen PhD, profesor sosiologi di Universitas North Carolina, Chapel Hill, Amerika Serikat.Dalam sebuah penelitian lain yang dilakukan pada tahun 2005, US Cencus Bureau melaporkan, diperkirakan sekitar 5,6 juta wanita memilih menjadi ibu rumah tangga dan tinggal di rumah. Data ini menunjukkan kenaikan 22% dari 1994.Bukti lain, dalam sebuah buku berjudul The Cinderella Complex, ditemukan fakta betapa banyak wanita Amerika yang ternyata lebih senang berperan sebagai ibu rumah tangga dibanding keluar rumah untuk bekerja. Penulis buku tersebut, Colette Dowling, bahkan mengakui bahwa ia sendiri menikmati kesenangan menjadi seorang istri dan menginginkan pekerjaan merawat, membuat kue dan membersihkan kamar-kamar.Bahkan dalam buku tersebut juga ditemukan fakta betapa banyak wanita yang keluar dari pekerjaannya dengan alasan bahwa bekerja telah menimbulkan stres pada mereka dan ketika mereka telah berhenti dari pekerjaan dan kembali berada di rumah, mereka mengakui telah merasakan kelegaan yang luar biasa.
Demikianlah betapa Islam telah menetapkan segala sesuatunya sesuai dengan tabiatnya. Maka ketika suatu ketetapan tidak dijalankan berdasarkan Islam, justru malah menimbulkan kerusakan yang besar, yang itu diakibatkan ketidaktahuan manusia mengenai hakikat objek yang ia beri ketetapan tersebut.
Dengan demikian, agar kerusakan tidak berlangsung terus-menerus, maka kewenangan membuat peraturan harus diserahkan kepada Yang Maha Tahu, yaitu Allah SWT, termasuk dalam soal penetapan tugas yang pokok atau utama bagi wanita. Dan bila suatu ketetapan telah diputuskan oleh-Nya, maka setiap hati mukminin dan mukminat harus menerimanya dengan penuh kepasrahan, selayaknya sikap seorang hamba terhadap keputusan tuannya."
Nah jadi begitu, sebetulnya Islam sudah memberikan yang terbaik buat pengikutnya, tinggal bagaimana kita saja mau nurut apa engga. Sampai sini dulu ya, sampai ketemu selanjutnya di part 2.
Subscribe to:
Comments (Atom)


